Hari ini, di tengah tugas yang menumpuk, organisasi yang sibuk, dan hidup kampus yang sering membuat kita berlari tanpa berhenti… kita lupa menengok sebentar ke dalam diri, merenungi hari-hari ini.
Mahasiswa bukan hanya tentang mengejar IPK atau mengejar wisuda tercepat.
Tapi tentang membangun diri—pelan, tapi pasti.
Tentang berproses—meski kadang penuh jatuh bangun.
Dalam diam, mungkin ada yang sedang menahan lelah.
Ada yang sedang berjuang menyembuhkan hati.
Ada yang sedang bingung dengan masa depan.
Dan ada pula yang merasa tertinggal jauh dibanding teman-temannya.
Namun ingat…
Tidak semua orang berangkat dari garis yang sama,
dan tidak semua orang berlari dengan kecepatan yang sama.
Yang penting, kita tidak berhenti.
Renungkan ini sejenak:
• Setiap buku yang kita buka hari ini,
bisa menjadi pintu rezeki esok hari.
• Setiap tugas yang kita selesaikan,
sedang melatih tanggung jawab seorang dewasa.
• Setiap kekecewaan yang kita alami,
sedang menguatkan mental kita menghadapi kerasnya dunia kerja nanti.
• Setiap ketakutan yang kita lawan,
sedang membentuk versi diri yang lebih berani.
Perjalanan ini memang panjang.
Terkadang terasa melelahkan.
Tetapi percayalah,
Tuhan tidak pernah salah menempatkan kita.
Hari ini mungkin kita masih belajar,
masih sering merasa tidak cukup,
masih mencari arah yang benar.
Tapi suatu hari nanti,
kita akan menoleh ke belakang dan berkata:
“Terima kasih diriku… karena tidak menyerah waktu itu.”
Maka mari hadiahkan diri kita satu hal:
keberanian untuk terus melangkah,
meski pelan—meski belum sempurna.
Karena menjadi mahasiswa bukan tentang siapa paling cepat,
tapi siapa yang paling konsisten menjaga mimpinya.
Tak hanya untuk diri sendiri tapi juga orang-orang terkasih.
Sering kali kita menjalani hari-hari kampus dengan terburu-buru.
Bangun pagi, kuliah, tugas, rapat, pulang, tidur.
Begitu seterusnya.
Seolah hidup ini hanya tentang apa yang ada di depan mata.
Sampai akhirnya, kita lupa menengok ke belakang.
Lupa bahwa perjalanan sejauh ini
adalah hasil dari cinta, pengorbanan, dan air mata
yang tidak selalu kita lihat.
I. Tentang Kita yang Sedang Berjuang
setiap dari kita datang ke kampus membawa berbagai beban.
Ada yang sedang mengejar mimpi.
Ada yang sedang memperbaiki hidup.
Ada yang sedang menyembuhkan diri.
Ada yang diam-diam sedang kehilangan arah.
Dan di balik semua ini,
kita sering bertanya pada diri sendiri:
“Apakah aku mampu?”
“Apakah aku cukup baik?”
“Apakah aku akan berhasil?”
Pertanyaan-pertanyaan itu sering membuat kita gentar.
Namun jika kita membalik cerita ini,
ada dua orang yang tidak pernah ragu
tentang kemampuan kita.
Dua orang yang paling percaya,
bahkan ketika kita sendiri meragukan diri kita.
Mereka adalah orang tua.
II. Tentang Orang Tua: Pahlawan yang Tidak Pernah Meminta Panggung
berapa banyak dari kita yang tumbuh besar
melihat ibu bekerja tanpa jeda?
Berapa banyak dari kita yang melihat ayah
pulang dengan langkah yang semakin lambat?
Berapa banyak dari kita yang menyaksikan mereka
mengurangi kebutuhan mereka sendiri
agar kebutuhan kita terpenuhi?
Mereka jarang bercerita.
Mereka jarang menunjukkan lelahnya.
Tetapi tubuh mereka menyimpan bukti.
Bahu yang dulu tegap,
kini mulai menurun.
Tangan yang dulu kuat,
kini dipenuhi garis-garis kerja keras.
Mata yang dulu jernih,
kini menyimpan ribuan kekhawatiran.
Mereka tidak meminta imbalan.
Tidak meminta dipuji.
Tidak meminta dibalas dengan harta.
Yang mereka inginkan sederhana:
melihat anaknya tumbuh menjadi manusia yang baik.
III. Tentang Air Mata yang Mereka Sembunyikan
ada ibu yang menangis diam-diam ketika kita tidak tahu.
Ada ayah yang menahan sedih agar tidak terlihat rapuh.
Ada yang setiap malam memandang foto kita
karena rindu, tapi tidak ingin membebani kita.
Ada yang memeluk baju kita sebelum tidur
ketika rumah terasa terlalu sepi.
Ada ibu yang setiap sujudnya menyebut nama kita.
Ada ayah yang setiap langkah kerjanya
adalah doa yang berubah menjadi keringat.
Tetapi mereka tidak pernah meminta kita tahu.
Karena bagi mereka,
yang penting kita bisa bertahan dan terus melangkah.
sekarang…
izinkan saya membawa kita ke bagian yang mungkin paling berat.
Namun juga paling jujur.
Bayangkan…
di suatu pagi kita bangun,
dan kursi tempat orang tua kita biasa duduk
sudah kosong untuk selamanya.
Bayangkan rumah yang biasanya hangat,
tiba-tiba terasa sangat hening.
Tidak ada lagi suara ibu memanggil pelan,
tidak ada lagi suara ayah memberi nasihat sederhana.
Bayangkan kita pulang dari kampus
tanpa ada lagi yang bertanya:
“Kamu sudah makan?”
“Capek ya nak?”
Bayangkan wajah itu…
yang dulu setiap hari kita lihat…
kini hanya ada dalam foto.
Bayangkan tangan itu…
yang dulu memegang tangan kita dengan hangat…
kini sudah tidak bisa kita genggam lagi.
ada di antara kita yang sudah merasakan kehilangan ini.
Ada yang tidak lagi bisa menelepon ayahnya.
Ada yang tidak lagi bisa memeluk ibunya.
Ada yang hanya bisa bercerita pada nisan yang dingin.
Ada yang hanya bisa mengirim doa.
Dan bagi mereka,
perjuangan di kampus bukan hanya tentang masa depan…
tetapi tentang melanjutkan mimpi yang pernah orang tua mereka titipkan.
Jika hari ini kita masih memiliki orang tua,
kita beruntung.
Sangat beruntung.
Karena tidak semua orang punya kesempatan itu.
Maka, teman-teman…
selagi kita masih bisa,
selagi suara mereka masih bisa kita dengarkan,
selagi senyum mereka masih bisa kita lihat,
selagi tangan mereka masih bisa kita genggam—
jangan sia-siakan waktu itu.
IV. Tentang Hari Wisuda di Masa Depan
Suatu hari nanti…
kita akan berdiri di panggung wisuda.
Kita akan mengenakan toga,
menyebut nama orang tua kita,
dan memegang ijazah yang kita perjuangkan bertahun-tahun.
Ketika itu terjadi…
Bayangkan ibu tersenyum sambil menahan air mata.
Bayangkan ayah berdiri dengan bangga,
walau hatinya penuh haru.
Atau…
bagi yang orang tuanya telah tiada,
bayangkan mereka melihat kita dari tempat yang lebih tinggi,
lebih indah.
Tersenyum bangga karena anaknya akhirnya berhasil.
Hari itu,
kita akan menyadari:
“Semua perjalanan ini…
bukan hanya untukku.
Tapi untuk orang tua yang mencintaiku
lebih dari apapun.”
V. Perjalanan Ini Milik Kita, Tapi Juga Milik Mereka
Perjalanan sebagai mahasiswa bukan hanya tentang kita.
Ini adalah cerminan cinta orang tua kita.
Cerminan pengorbanan yang tidak pernah kita lihat.
Cerminan doa yang tidak pernah kita dengar.
Maka ketika kita ingin menyerah,
ingatlah siapa yang paling ingin kita berhasil.
Ketika kita merasa tidak mampu,
ingatlah siapa yang paling percaya bahwa kita bisa.
Ketika kita merasa sendirian,
ingatlah siapa yang selalu mendampingi kita—
meski dari jauh,
meski tanpa suara,
meski dari alam yang berbeda.
Mari kita terus melangkah.
Untuk masa depan kita.
Untuk cita-cita kita.
Untuk orang tua yang masih ada.
Dan untuk orang tua yang telah lebih dulu pergi.
Terima kasih.
Renungan ini ditulis agar menjadi pengingat bagi diri sendiri dan yang membaca bahwa cinta mereka hidup dalam setiap langkah kita, walaupun telah tiada lagi membersamai kita, lebih semangat lagi, berjuang lebik baik lagi buat mereka bangga dan tersenyum dengan indah. Semoga bermanfaat, Barakallahufiikum..
Salam Sehat & Semangat,
Dari Perawatmu,
Ns. Dwi Andika Fahri





إرسال تعليق