Tidak sedikit kita dapati orang-orang yang memberi pernyataan tentang orang miskin, seringkali berakhir dengan kalimat, "kamu miskin karena kamu bodoh, arogan, pemalas!". Pernyataan ini mungkin bagi para penyembahnya terdengar masuk akal, keren dan wah! Tapi inilah pernyataan, sebenar-benar pernyataan yang paling dangkal dan kekanak-kanakan. la lahir dari cara pandang yang menaruh beban kemiskinan semata-mata pada individu, seakan-akan dunia ini berjalan adil, dan siapa bisa kaya asal bekerja keras, rajin pintar.
Buat teman-teman semua, tolong sampaikan tulisan ini kepada orang -orang yang melemparkan kalimat dangkal tadi dan kasih tahu kalo realitas tidak sesederhana dan sesempit ucapannya itu.
Miskin = Bodoh
"Kamu miskin karena kamu bodoh," katanya. Padahal, kalau kita mau mikir lebih lama, kemiskinan itu tidak sesimpel bicaranya saja, ia adalah labirin yang dibangun diatas sejarah, disemen kebijakan, dan dijaga oleh struktur yang membuat jalan untuk keluar dari labirinnya itu mahal.
Pernahkah orang yang bilang "miskin = goblok" itu bertemu dengan seorang ibu yang bisa mengonversi sisa sayur kemarin menjadi tiga menu berbeda supaya anaknya tetap makan sayur tiap hari. Ibu itu tentu tidak bodoh, penghasilannya yang kecil itu ia kelola dengan insting dan disiplin bertahan hidup yang cerdik. Dan itu butuh otak yang tidak hanya pintar, tapi juga cerdas. Mengatur uang 20 ribu rupiah untuk makan satu keluarga sehari penuh jelas lebih rumit daripada menghitung laba rugi bisnis kripto miliaran.
Mengaitkan kemiskinan dengan kebodohan hanya akan melahirkan stigma negatif. Dan itu akan membuat masyarakat bahkan pemerintah berpikir kemiskinan adalah masalah pribadi dan bukan masalah kolektif yang harus diselesaikan bersama. Padahal, seperti kata ekonom Amartya Sen, kemiskinan adalah hilangnya kebebasan untuk memilih hidup yang kita anggap berharga dan itu banyak ditentukan oleh kondisi sosial-ekonomi, bukan oleh tingkat kepintaran semata.
Miskin = Malas
Tuduhan bahwa orang miskin itu malas juga absurd. Coba suruh orang yang bilang begitu pergi ke pasar subuh, atau lihat buruh bangunan, kuli angkut, sopir angkot, penjual asongan. Mereka bekerja dari sebelum matahari muncul sampai larut malam. Keringat mereka tumpah jauh lebih banyak daripada keringat mereka yang kantoran yang duduk di ruang ber-AC.
Tuduhan malas ini dangkal. Masalah dasarnya bukan malas. Masalahnya harga tenaga mereka dibayar murah. Sistem ekonomi menempatkan mereka di tangga terbawah, di mana kerja keras tidak selalu sebanding dengan hasil.
Miskin = Arogan
"Kamu miskin karena kamu arogan!" katamya. Orang miskin dianggap keras kepala, tidak mau berubah, tidak mau mendengar saran. Ini juga udah ga ketolong kedangkalannya. Orang miskin dituduh arogan hanya karena mereka menolak diperintah seenaknya, atau tidak mau menerima nasihat kosong dari orang yang hidupnya serba berkecukupan. Realitas mereka ga sesederhana pikiran kita yang gapernah kekurangan.
Menuduh mereka "arogan" itu tidak manusiawi sama sekali. Psikopat. Kita menumpahan beban pada korban, menyalahkan korban, seolah-olah kemiskinan adalah penyakit karakter, bukan penyakit sistem yang busuk dan tamak.
Kemiskinan adalah produk daripada sistem. Tidak ada orang, dilahirkan kemudian orang itu memilih untuk jadi orang miskin. Oke gini penjelasannya:
- Akses pendidikan terbatas. Anak dari keluarga miskin sering kali putus sekolah karena biaya, sehingga sulit mendapatkan pekerjaan layak.
- Kesehatan yang mahal. Sakit sedikit bisa menguras seluruh tabungan keluarga miskin.
- Upah rendah. Tenaga kerja dengan pendidikan minim sering kali hanya diberi upah seadanya, meski jam kerja panjang.
- Kebijakan negara. Subsidi sering salah sasaran, program pemberdayaan tidak merata, dan korupsi merampas hak-hak rakyat kecil.
Hasilnya apa? Orang miskin ya tetap miskin, meskipun sudah jungkir balik. Inilah yang disebut lingkaran yang melanggengkan kemiskinan. Dan sayangnya, lingkaran seperti ini terus dipupuk dan dirawat, maka beranak-pinaklah kemiskinan itu.
Ini Berbahaya !
Bahaya dari Pen-stigma-an bahwa "orang itu miskin karena, arogan, malas atau bodoh" adalah hilangnya empati. Jika kemiskinan dianggap kesalahan pribadi, maka masyarakat nanti bisa-bisa merasa tak perlu peduli. Kita bisa nyaman duduk di kursi sambil berkata, "Ya salah sendiri, kenapa gak usaha."
Padahal, pandangan ini sama sekali tidak bijak dan adil. Mengatakan orang miskin miskin karena malas, sama absurdnya dengan mengatakan orang kena sakit kanker sakit karena kurang semangat hidup.
Kalau kerja keras otomatis bisa bikin kaya, maka tukang gali kubur pasti udah jadi miliarder. Kenyataannya, yang jadi miliarder sering kali justru mereka yang bisa mengatur sistem atau yang lahir di keluarga kaya. "Kerja keras" itu perlu, tapi tanpa akses, modal, dan sistem yang mendukung, kerja keras sering hanya berbuah lelah.
Ah, tapi jangan-jangan bukan mereka yang bodoh, malas dan arogan, barangkali dia yang mengucapkan itu yang bodoh dan arogan, atau pemerintah, atau masyarakat atau kita yang gagal, yang tamak, yang kurang memahami kemanusiaan dan keadilan.
Semoga Bermanfaat, Barakallahufiikum





Posting Komentar